24
Des
08

Wednesday, 17 December 2008

Malam itu mataku terus terbuka, memperhatikan nafasnya yang terkadang berhenti. Aku tak mau melepas saat saat terakhir itu. Sampai adzan subuh berkumandang akhirnya aku terlelap setelah mama terbangun untuk sholat dan menggantikan aku jaga. Oh minimal aku bisa mengistirahatkan mataku sejenak.

Jam menunjukan pukul 08.10 dan aku bangun siang lagi. Memandang wajahnya seakan dia tertidur dengan pulas, mengingat sakit yang di deritanya. Nafasnya tidak lagi tersumbat oleh dahak yang beberapa hari lalu sungguh merepotkan saya. Datang pagi itu dua kakaknya untuk menjenguknya. Jam 09.00 ada yang aneh dengan irama nafasnya, terkadang berhenti namun menyambung kembali. Isak tangis kedua kakaknya dan mama membuat aku juga tak mampu memendam air mata yang mendesak keluar. Ku pegang tangannya dan terus berdoa saat dia hembuskan nafas terakhirnya. All over, he leave me for a better place for him.

Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikitpun ku bayangkan
Kau akan pergi tinggalkan kusendiri

Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit ku rasakan
Kau akan pergi tinggalkan ku sendiri
ST12 – Saat Terakhir

Terus dan terus kupandangi jasad orang yang kusayangi tak bernafas lagi, kucium pipinya sebelum selembar kain menutup seluruh tubuhnya. Aku pergi meninggalkan dia, mencoba menutupi kesedihan berlari menuju kamar mandi. Ku bayur seluruh tubuhku basah, basah oleh air bak dan air mata. Aku keluar memandang sekitar sudah ramai keluarga menangis namun tak terdengar isak tangis itu. Kulihat mama memeluk tubuhnya walau sudah terbaring tak bernyawa. Ku hampiri dia, kutuntun menuju kamarnya biarlah dia istirahat di kamar saja.

Tubuhnya sudah di bersihkan dari selang-selang infus dan injeksi yang selama ini menyiksanya. Kuangkat dia untuk dimandikan di belakang rumah, bersama kakaknya kubersihkan semua bagian tubuhnya. Kini dia terbaring diatas kain kafan, putih bersih dan bertaburkan bunga yang harum.

Goodbye dad, im sorry for all. you know something, I always love you.

Itu kata terakhir yang aku ucapkan sebelum kain kafan itu membungkus tubuhnya. Doa-doa berkumandang, tandu jenasah di angkat untuk berangkat ke masjid. Di masjid itu akhirnya aku melakukan sholat jenazah, dan yang terbaring di depanku jenazah papaku sendiri.

Dipemakaman itu lubang itu kira-kira sedalam 2 meter kulihat sebuah peti kayu di bawahnya. Jenazah papaku akhirnya di masukan kedalam lubang itu dan dikubur oleh beberapa orang penggalu kubur. Aku hanya berdoa kepadaNya semoga dia mau menerima papa untuk berada disisiNya.

That the last and the end of all memory about him.


2 Responses to “Wednesday, 17 December 2008”


  1. 1 ..Lie..
    Desember 26, 2008 pukul 3:52 pm

    :(( :((
    turut berduka yach…

    but, ttp smangat ya jgn berlarut2 sedihnya!!
    😀

  2. 2 Denny
    Desember 26, 2008 pukul 4:14 pm

    iya lele.. makasi ya..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: