28
Okt
08

Sejarah Kretek di Kudus

Mungkin bagi para perokok tidak tahu dari mana rokok itu bisa ada di Indonesia, atau setidaknya berkembang pesat di tanah Nusantara ini. Mereka hanya sibuk untuk menghisap asap rokok itu sendiri tanpa memperdulikan jerih payah di balik besarnya usaha kretek itu, yang mungkin sekarang menjadi pendapatan negara yang cukup besar.

Kudus dan NitiSumito

Kretek atau rokok itu sendiri tidak bisa lepas dari Kota Kudus yang lebih identik dengan sebutan Kota Kretek itu dan Niti Sumito, seorang pengusaha Kretek sukses yang berasal dari Kota Kretek Kudus.

Nama Niti Sumito sendiri sudah sangat terkenal di Kudus, seorang pengusaha daerah yang ulet dan tekun menjalani profesinya. Karirnya berawal dari menjadi seorang Carik di Kampung Djanggalan, karena sifatnya yang tekun serta taqwa mendekatkan diri kepada Tuhan YME kelak dia akan menjadi seorang pengusaha sukses di tanah Jawa ini. Singkat cerita Niti Sumito berdagang ke Mojokerto, dan kembali lagi ke Kudus membuka toko di rumahnya di bilangan Jl Sunan Kudus tepatnya nomer 120. Di toko yang menyediakan selain kebutuhan hidup sehari-hari juga bahan baku rokok kretek yaitu tembakau, klobot (daun jagung) dan jinggo/ benang itu lah mulai nama Niti Sumito menjadi besar. Menjelang tahun 1905, karena rokok kretek buatannya dikenal sangat enak, maka Niti Semito membuat rokok kretek berdasarkan pesanan sahabat-sahabatnya.

Asal Mula Produksi Rokok

Tahun 1908 perusahaan Nitisemito baru mendapat ijin dari Pemerintah Hindia Belanda dengan merk Bola Tiga ( Bal tiga ). Tahun 1909 Nitisemito mulai membuat rokok kretek dan di tahun inilah sebenarnya rokok kretek tumbuh menjadi industri, meskipun masih berupa industri kecil yang dikerjakan Nitisemito dan keluarganya. Untuk pertama kalinya rokok kretek dijual tanpa bungkus dengan harga 2,5 sen seikat untuk 25 batang ukuran kecil dan 3 sen seikat untuk 25 batang ukuran besar. Kemudian dilekati dengan merk Soempil ( driehoek, segitiga ) kemudian diganti dengan merk Jeruk / Djeruk sampai akhirnya diganti merk MNiti Semito dengan gambar 3 lingkaran yang dikenal dengan nama Bal tiga, Bal Teloe, Bola Tiga, Tiga Bola, Boender Tiga, Boender Telu. Rokok kretek berkembang dari industri kecil menjadi besar ketika M. NITI SEMITO mendirikan “Kretek Sigaretan Fabrik M. NITI SEMITO KOEDOES” di kampung Djanggalan Kudus, kemudian membuat lebih banyak rokok kretek dan mengirimkannya ke Semarang.

Berkembangnya Usaha Rokok

Awal tahun 1914 industri rokok kretek dari industri besar melonjak menjadi industri raksasa yang melibatkan ribuan tenaga kerja. Kesuksesan yang diraih M.NITI SEMITO ini kemudian banyak ditiru orang, sehingga antara tahun 1915 -1918 bermunculan ratusan pabrik rokok kretek yang baru tidak hanya di Kudus tetapi juga di Semarang, Surabaya, Blitar, Kediri, Malang, dll. Mulai saat itu industri rokok di Kudus mulai berkembang pesat, pada tahun 1989 ada sekitar 32 unit usaha rokok. Dari sekian banyak perusahaan rokok, yang terbesar adalah PT Djarum ( didirikan pada tahun 1951 ), PT Nojorono ( didirikan tahun 1932 ), PR Sukun ( tahun 1949 ), Jambu Bol ( didirikan tahun 1937 ).
Sampai sekarang ada ribuan Pabrik rokok yang tersebar di kota Kudus.

Sumber: Pemkab Kudus

About these ads

0 Responses to “Sejarah Kretek di Kudus”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: